CORONA meyamakan LEVEL KERESAHAN SDM RS


Dalam menyelenggarakan Pelayanan kesehatan kepada pasien, sebuah rumah sakit di topang oleh 3 kelompok SDM : Medis, Penunjang Medis dan Penunjang Non Medis ( manajemen )

Dalam kondisi normal atau underload terkadang SDM yang terlibat di Rumah Sakit dalam melayani Pasien dan Keluarga  mempunyai Level keresahan yang berbeda beda antara ke tiga kelompok tersebut.

dalam kondisi beban Normal SDM pada kelompok Medis ( dokter dan perawat) tentu mempunyai Level keresahan paling tinggi, karena sehari-hari kelompok ini yang berinteraksi langsung dengan pasien. Kelompok ini mengalami tekanan dari pasien dan keluarga khususnya harapan untuk dapat sehat kembali.

oleh karenanya tidak aneh jika komplain selalu terkait dengan kelompok ini, terutama di layanan rawat inap kelas satu karena terkait kenyamanan selama di rawat dan Poliklinik terkait dengan Delay yang keterlaluan ( kelamaan ) dari sisi waktu tunggu.

SDM pada kelompok penunjang Medis dan SDM kelompok non Medis, karena tidak langsung berhubungan dengan pasien tentu akan mempunyai Level Keresahan dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan dengan SDM pada kelompok Medis.

namun hal berbeda terjadi saat WABAH CORONA melanda. semua SDM dibanyak Rumah Sakit mempunyai LEVEL KERESAHAN yang sama. semua pihak yang terlibat BAHU MEMBAHU berjibaku untuk melakukan AKSI PERBAIKAN di semua TITIK LAYANAN secara bersama sama dan diwaktu yang sama.

salah satu pemicunya  adalah karena wabah CORONA bukan hanya bisa mengenai pasien yang datang, namun bisa mengenai para medis sendiri serta SDM lain di rumah sakit.

karena sifatnya bisa KENA SIAPA SAJA, maka dengan demikian mendadak LEVEL KERESAHAN menjadi sama diantara SDM Rumah Sakit, baik di Pelayanan Medis, Penunjang Medis dan Penunjang non Medis.

Setidaknya AKSI PERBAIKAN yang sudah banyak dilakukan di beberapa Rumah Sakit dalam Melayani Pasien dan Keluarga yang datang menekankan pada 3 hal :

1. Pemenuhan KUALITAS PELAYANAN
a. Pemeriksaan Labolatorium khususnya untuk mengetahui Posisif atau Negatif terpapar CORONA kepada seluruh staf Rumah Sakit. hal ini untuk memastikan paramedis yang melayani pasien bebas Corona.
b. Pemasangan ALAT PELINDUNG DIRI kepada paramedis selama melayani Pasien dan Pengantar yang datang


2. Pengaturan LONJAKAN KUNJUNGAN PASIEN
a. Anjuran dari para dokter spesialis kepada pasien melalui sosial media dan chanel lainnya agar tidak ke rumah sakit jika kondisi tidak emergency. hal ini bisa kita lihat dari himbauan yangdikeluarkan oleh dokter spesialis Anak, Obgyn, Urologi, Radiologi dan lainnya


3. Pengaturan KONSENTRASI Kedatangan Pasien dan Keluarga

A. di area KEDATANGAN PASIEN
1. pemberlakukan 1 pintu masuk dan keluar  untuk memudahkan mengontrol orang yang datang dan pulang
2. Akses masuk Rumah Sakit hanya dibuka untuk Pasien/ Pendamping dan petugas operasional Rumah Sakit.
3. pemeriksaan suhu saat akan masuk area loby rumah sakit kepada pasiend an pengantar
4. Gedung Rumah Sakit akan di tutup Pukul 21.00
5. anak kecil < 12 tahun dilarang masuk gedung Rumah Sakit
6. Tamu Manajemen harus ditemui di area skrining, boleh masuk jika memenuhi kriteria yang diberlakukan

B. di area POLIKLINIK
1. pembatasan pengantar pasien poliklinik :  1 pasien hanya boleh diantar oleh 1 pengantar, dan baru boleh masuk gedung Rumah Sakit 07.00 WIB
2. pemberian jarak duduk di ruang tunggu poliklinik

C. di area LIFT
pengaturan posisi berdiri saat di lift, dimana orang yang akan masuk lift dibatasi dan berdiri pada posisi tidak berhadapan.

D. di area RAWAT INAP
penunggu rawat inap hanya satu orang

E. Hasil Pemeriksaan Labolatorium
dikirimkan via email ke Dokter dan Pasien
memindahkan Mesin Cetak Hasil Labolatorium di area teras Rumah Sakit

dan tentu banyak lagi AKSI PERBAIKAN menghadapi wabah CORONA ini. Hikmahnya adalah CORONA telah menggiring semua Insan Rumah Sakit pada SATU LEVEL KERESAHAN yang sama, sehingga di kondisi ini Jarak IDE PERBAIKAN dan IMPLEMENTASINYA sangat dekat.

Comments

Popular Posts