SAMA SAMA hanya KERJA SAMA SAMA tanpa KERJASAMA. Why?
1. Pendahuluan: Jebakan "Sama-Sama" di Tempat Kerja
Mari kita jujur: kantor Anda mungkin terlihat seperti sarang lebah yang sangat produktif, padahal kenyataannya hanyalah sekumpulan orang yang kebetulan menghirup oksigen di koordinat GPS yang sama. Ruangan penuh, mesin absen berderit setiap pagi, dan semua orang tampak khusyuk di depan monitor. Namun, Pak Naw mengingatkan kita pada sebuah ironi besar: berada di tempat yang sama tidak berarti Anda sedang bekerja sama.
Ini adalah fenomena "Kerja Sama-Sama"—sebuah kondisi di mana kehadiran fisik dianggap sebagai prestasi. Esensi "Kerjasama" atau kolaborasi aktif sering kali menguap, digantikan oleh rutinitas tanpa makna yang hanya memuaskan sensor mesin absen. Jika sinergi hanya menjadi jargon di poster dinding tanpa realisasi di meja kerja, maka organisasi Anda sebenarnya sedang berjalan di tempat dalam balutan kesibukan semu.
2. Menakar Output vs. Absensi
Mesin absen adalah alat paling naif di kantor; ia hanya memantau kedisiplinan fisik, bukan kualitas otak. Di balik data "Hadir" itu, ada perilaku SDM yang unik sekaligus merusak:
- Teng-Go: Tipe yang sangat presisi dengan jam pulang. Mereka adalah SDM Multi Talenan—bisa digunakan untuk apa saja tapi tidak bisa dikembangkan. Mereka bekerja seperti robot; fungsional, tapi tanpa nilai tambah.
- Kapal Selam: Karyawan yang menjadikan kantor sebagai "dermaga" untuk mengisi daya baterai sebelum menyelam kembali mengurusi bisnis pribadi atau "obyekan" luar. Muncul saat absen pagi, menghilang seharian, dan muncul kembali saat jam pulang.
- Lumba-Lumba: Tipe yang paling berisik. Melompat ke sana kemari, merecoki pekerjaan orang lain agar terlihat sibuk, padahal hasil kerjanya nol besar.
- Gajah Duduk: Mereka yang sudah "berakar" di satu posisi selama bertahun-tahun. Enggan bergerak, sulit dirotasi, dan menolak perubahan karena sudah terlalu nyaman dengan berat badannya sendiri di zona tersebut.
- SDM Bercula 1: Si keras kepala yang tidak bisa diajak diskusi. Bagi mereka, pendapat pribadi adalah hukum tertinggi.
- SDM Bermutu (Bermuka Tua): Bukan kualitasnya yang mumpuni, tapi tampilannya yang sengaja "dituakan" agar terlihat berwibawa, padahal isinya hampa.
Refleksinya pedas: "Absen kehadiran hanya memantau kedisiplinan di awal dan akhir, namun ia buta terhadap output pekerjaan." Tanpa target yang jelas, Anda hanyalah penjaga kursi profesional.
3. Organisasi Jam Pasir dan Invasi "Pejabat Kulkas"
Pernahkah Anda bertanya mengapa keputusan strategis mandek di tengah jalan? Jawabannya ada pada struktur "Organisasi Jam Pasir". Dalam model ini, keresahan dan beban kerja hanya menumpuk di level Direksi (atas) dan staf pelaksana (bawah). Bagian tengahnya—level manajerial—menyempit dan tersumbat.
Di leher botol inilah bersemayam para Pejabat Kulkas: sosok dingin yang hanya peduli pada kenyamanan unitnya sendiri tanpa mau tahu urusan unit lain. Mereka biasanya mengidap penyakit Jabatan MTB (Mau Tau Beres). Karakteristik utamanya adalah mentalitas "surat kaleng": ke atas mohon arahan, ke bawah hanya menulis disposisi "tindak lanjuti" tanpa memberikan solusi teknis. Mereka asyik menikmati petunjuk atasan tanpa sedikit pun menyumbang kreativitas, mengubah birokrasi menjadi jalur lambat yang mematikan inovasi.
4. Raja Kecil dan Gaya Gravitasi Karyawan
Jika seorang karyawan dibiarkan membusuk di satu unit kerja lebih dari 4 tahun tanpa rotasi, bersiaplah menghadapi munculnya "Raja Kecil". Mereka membangun dinasti non-formal dan menjadi penghambat perubahan paling militan.
Kondisi ini dipicu oleh Gaya Gravitasi Karyawan. Bagi mereka, meja, kursi, dan komputer kantor memiliki daya tarik emosional yang lebih kuat daripada visi perusahaan. Dalam level ini, memindahkan posisi kursi kerja mereka saja sudah dirasakan setara dengan "mencabut nyawa". Mereka akan melakukan perlawanan gerilya terhadap setiap kebijakan baru yang mengusik kenyamanan mereka. Solusinya? Paksa mereka keluar melalui tiga pendekatan:
- Kebijaksanaan: Dialog dari hati ke hati tentang masa depan.
- Refleksi: Menagih sumbangsih nyata mereka selama bertahun-tahun.
- Pengetahuan: Mengirim mereka ke "dunia luar" untuk belajar hal baru guna memecah kebebalan mental.
5. "Lembur karena Ketololan" dan Ilusi Pekerjaan Omong Kosong
Mengacu pada teori Bullshit Jobs dari David Graeber, banyak kantor menciptakan pekerjaan yang sebenarnya tidak berguna namun dibuat seolah-olah penting. Di Indonesia, hal ini bermuara pada fenomena Lembur Semu.
Kita harus membedakan antara lembur karena overload dengan lembur karena inefisiensi. Jika lembur terjadi karena re-work atau memperbaiki kesalahan yang dibuat saat jam kerja normal, maka itu adalah Lembur karena Ketololan. Perusahaan, secara tragis, membayar mahal untuk kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Sering kali, staf dibiarkan menjadi SDM Multi Talenan—hanya dipukul dan digunakan untuk pekerjaan remeh—sehingga saat jam kerja habis, pekerjaan utama justru belum tersentuh. Membayar lembur seperti ini sama saja dengan mensubsidi ketidakmampuan karyawan.
6. "Geser Pantat": Solusi Milyaran dari Perubahan Sederhana
Kolaborasi sering kali dianggap sebagai investasi IT yang mahal, padahal terkadang solusinya hanya masalah "Mendekatkan Meja". Simak kasus nyata di sebuah Rumah Sakit: pasien sering batal menebus obat karena jarak antara Kasir dan Farmasi terlalu jauh dan melelahkan.
Hanya dengan strategi "Geser Pantat"—yakni memindahkan meja kasir tepat di sebelah loket farmasi agar proses menjadi satu aliran—perusahaan berhasil menyelamatkan potensi kerugian hingga Rp 4 Miliar per tahun. Mengapa solusi semudah ini jarang dilakukan? Karena bagi organisasi yang sudah terjangkit zona nyaman, memindahkan kursi kerja terasa lebih berat daripada mengangkat kontainer. Ego sektoral sering kali lebih besar daripada keinginan untuk menyelamatkan pendapatan perusahaan.
7. Kesimpulan: Bergerak dari Zona Nyaman ke Zona Kolaborasi
Eksistensi sebuah organisasi tidak ditentukan oleh seberapa canggih mesin absennya, melainkan oleh keberaniannya melakukan rotasi rutin (maksimal 2 tahun sekali) untuk menghancurkan bibit-bibit "Raja Kecil". Strategi utamanya adalah "Menyamakan Level Keresahan". Jika hanya Direksi yang tidak bisa tidur karena target, sementara staf asyik bermain TikTok dan manajer bersikap MTB, maka kehancuran hanyalah masalah waktu.
Kolaborasi sejati dimulai ketika Anda berhenti sekadar "ada" dan mulai "berdaya". Jangan biarkan diri Anda menjadi bagian dari dekorasi kantor yang hanya pandai menghabiskan anggaran lembur tanpa hasil nyata.
Apakah hari ini Anda benar-benar sedang bekerjasama, atau hanya sekadar berada di tempat yang sama dengan rekan kerja Anda?

Comments
Post a Comment