HIGH PERFORMANCE TEAM berbasis DEXLER MODEL
Rahasia di Balik Tim Berperforma Tinggi: Membedah Model Kinerja Tim Drexler/Sibbet
Diskrepansi performa dalam organisasi sering kali berakar bukan pada minimnya talenta, melainkan pada absennya infrastruktur psikologis dan operasional yang kohesif. Banyak pemimpin merakit tim yang diisi oleh individu-individu berprestasi, namun terheran-heran ketika sinergi kolektif gagal terwujud. Masalahnya fundamental: tim tersebut tidak memiliki peta jalan evolusi untuk bertransformasi dari sekadar kumpulan orang menjadi entitas yang sinkron.
Drexler/Sibbet Team Performance Model® hadir sebagai kerangka kerja elegan yang membedah anatomi tim melalui tujuh tahap sistematis. Model ini menggambarkan perjalanan tim seperti sebuah lembah; sebuah trajektori yang "turun" untuk membangun fondasi internal sebelum akhirnya "naik" menuju puncak eksekusi yang eksponensial.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai tujuh tahapan tersebut bagi para pemimpin yang mengutamakan keunggulan strategis.
1. Fondasi Dimulai dari Pertanyaan "Mengapa" (Orientation)
Perjalanan dimulai dengan Orientation. Sebelum membicarakan target kuartalan, setiap anggota tim harus tuntas menjawab pertanyaan eksistensial: "WHY am I here?" (Mengapa saya di sini?).
Tanpa orientasi yang tajam, tim akan beroperasi dalam ruang hampa makna. Kegagalan pada tahap ini biasanya termanifestasi dalam bentuk apatisme dan kebingungan arah. Sebagai pemimpin, tugas Anda adalah memberikan konteks strategis yang melampaui deskripsi pekerjaan formal.
"Visi tanpa orientasi hanyalah halusinasi kolektif; tujuan yang jelas adalah gravitasi yang menyatukan ambisi individu menjadi kekuatan organisasi yang tak terbendung."
2. Kepercayaan Adalah Prasyarat Kerja (Trust Building)
Setelah tujuan dipahami, dinamika bergeser ke ranah interpersonal: Trust Building. Pertanyaan yang mendominasi adalah "WHO are you?" (Siapa Anda?). Di sini, kepercayaan bukan sekadar kenyamanan sosial, melainkan pengakuan atas kompetensi dan integritas rekan sejawat.
Red Flag: Jika interaksi tim masih terasa sangat formal, kaku, atau penuh dengan keraguan untuk berbagi pendapat, berarti fondasi kepercayaan Anda belum solid. Performa tinggi mustahil dicapai tanpa rasa aman secara psikologis.
3. Kejelasan Tujuan Sebelum Eksekusi (Goal Clarification)
Memasuki tahap Goal Clarification, tim harus membedah visi menjadi variabel yang lebih taktis melalui pertanyaan: "WHAT are we doing?" (Apa yang kita lakukan?). Strategi harus dijabarkan dengan presisi untuk menghindari duplikasi kerja atau pemborosan sumber daya.
Diskrepansi strategis sering kali muncul di sini. Tim yang terjebak pada tahap ini biasanya terlihat sangat sibuk, namun kontribusinya minimal terhadap sasaran utama organisasi. Kejelasan tujuan adalah titik di mana aspirasi bertemu dengan realitas operasional.
4. Komitmen Sebagai Titik Balik (Commitment)
Tahap Commitment adalah fase paling krusial dalam model ini. Tim menjawab pertanyaan: "HOW will we do it?" (Bagaimana kita akan melakukannya?). Secara visual, ini adalah dasar dari "lembah" kinerja—sebuah pivot point (titik balik) yang memisahkan fase CREATING (Menciptakan) dengan fase SUSTAINING (Mempertahankan).
Di sinilah tim "membayar harga" untuk masuk ke level performa tinggi. Komitmen menuntut alokasi sumber daya yang nyata dan kesepakatan mutlak atas peran masing-masing. Tanpa keberanian untuk memutuskan strategi secara definitif, tim Anda hanya akan berputar-putar dalam fase perencanaan tanpa pernah benar-benar lepas landas.
5. Dari Rencana Menjadi Realita (Implementation)
Memasuki fase SUSTAINING, fokus beralih pada kedisiplinan eksekusi melalui Implementation. Detail logistik menjadi panglima: "WHO does WHAT, WHEN, WHERE?" (Siapa melakukan APA, KAPAN, di MANA?).
Tahap ini menuntut akuntabilitas operasional yang ketat. Jika pada fase sebelumnya kita membangun arsitektur pemikiran, di sini kita membangun arsitektur tindakan. Implementasi yang cacat biasanya merupakan residu dari tahap komitmen yang tidak tuntas atau pembagian peran yang ambigu.
6. Puncak "WOW!" (High Performance)
Inilah zona High Performance, sebuah kondisi yang sering dideskripsikan sebagai momen "WOW!". Di tahap ini, tim tidak lagi memerlukan pengawasan mikro; sinergi terjadi secara organik. Komunikasi berlangsung dengan kecepatan tinggi (flow), dan hasil yang dicapai melampaui kalkulasi matematis dari kemampuan individu.
Performa tinggi bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Ia adalah hasil arsitektural dari keberhasilan tim menavigasi lima tahap sebelumnya. Di sini, tim bekerja melampaui batas-batas teknis menuju harmoni kolektif.
7. Keberlanjutan dan Rejuvenasi (Renewal)
Puncak pencapaian bukanlah titik akhir. Tahap Renewal menantang tim dengan pertanyaan reflektif: "WHY continue?" (Mengapa melanjutkan?). Setiap tim yang sukses akan menghadapi ancaman stagnasi atau kejenuhan (burnout).
Pemimpin yang cerdas akan menggunakan tahap ini untuk melakukan evaluasi mendalam, merayakan keberhasilan, dan melakukan rejuvenasi visi. Apakah tim akan berevolusi menuju tantangan baru, atau justru melakukan pembubaran secara elegan karena misi telah terpenuhi? Renewal memastikan bahwa organisasi tetap lincah dan tidak terjebak dalam memori kesuksesan masa lalu.
--------------------------------------------------------------------------------
Memahami Model Drexler/Sibbet berarti memahami bahwa performa tinggi adalah sebuah ekosistem yang hidup, bukan sekadar instruksi manajerial. Kualitas output tim Anda berbanding lurus dengan kualitas fondasi yang Anda bangun di setiap tahapannya.
Sebagai penutup, berikan penilaian jujur terhadap organisasi Anda: Di tahap manakah tim Anda sedang berproses hari ini, dan apakah Anda memiliki keberanian strategis untuk menyelesaikan pertanyaan yang belum terjawab di tahap tersebut?

Comments
Post a Comment