ngelola SDM : ALAMAK

Ngelola SDM Itu "ALAMAK!": 5 Takeaway 'Nyeleneh' tapi Vital untuk Membangun Tim Juara

Pernahkah Anda merasa ingin teriak "ALAMAK!" saat melihat kelakuan tim di kantor? Mengelola bisnis—menghitung neraca atau merancang strategi pemasaran—itu urusan teknis yang ada rumusnya. Tapi mengelola manusia? Itu seni menghadapi ego, kenyamanan, dan drama yang sering kali lebih melelahkan daripada menghadapi kompetitor paling agresif sekalipun. Manusia itu bukan baut dalam mesin yang bisa Anda kencangkan lalu tinggal tidur; mereka adalah dinamika yang bisa menjadi bahan bakar pertumbuhan atau justru sumbu ledak kehancuran organisasi.

Perkenalkan Pak Naw, seorang praktisi yang jeli melihat realita lapangan dengan kacamata yang tidak biasa—'nyeleneh', tapi akurasinya sering kali bikin telinga merah. Pak Naw tidak bicara teori manajemen yang melangit; ia memotret fenomena "Gajah Duduk" hingga "Lembur Ketololan" yang selama ini mungkin Anda biarkan tumbuh subur di kantor. Siap untuk refleksi yang sedikit "pedas" tapi renyah? Mari kita bongkar 5 rahasia membangun tim juara ala Pak Naw.

1. Konflik Internal: Pembunuh Perusahaan yang Lebih Kejam dari Kompetitor

Banyak pemimpin bisnis terlalu sibuk memantau pergerakan musuh di luar sana, sampai lupa bahwa ancaman terbesar sering kali sedang "ngopi" di pantry kantor sendiri. Realitanya pahit: jatuhnya perusahaan besar lebih sering disebabkan oleh perseteruan di dalam rumah sendiri daripada gempuran pasar.

Ingat kasus Adam Air? Mereka bubar bukan karena kalah bersaing dengan maskapai lain, melainkan karena perseteruan direksi dan investor yang berujung pada penarikan dana. Atau jatuhnya salah satu TV swasta nasional karena manajemen yang cuek pada kesejahteraan, hingga talenta terbaiknya "pindah jamaah" ke stasiun baru. Masalah internal bukan cuma soal perasaan, ini soal angka nyata. Ada hidden cost mengerikan di mana 40% biaya perusahaan lahir dari 60% kegiatan tidak berguna. Beberapa di antaranya: pembiaran kesalahan kerja, stok inventori berlebih, hingga memproduksi sesuatu melampaui pesanan.

"Jatuhnya banyak perusahaan lebih disebabkan karena konflik internal dibandingkan karena persaingan dengan kompetitor."

2. "Lembur karena Ketololan": Berhenti Mengagungkan Kerja Larut Malam

Di banyak kantor, pulang malam dianggap simbol dedikasi. Tapi bagi Pak Naw, kita harus berani jujur: tidak semua lembur itu mulia. Perusahaan sering kali membayar mahal hanya untuk sebuah ketidakefisienan. Kita harus tegas membedakan mana lembur yang produktif dan mana yang lahir dari "ketololan".

Ada jenis lembur yang masih bisa ditoleransi:

* Lembur Beban Kerja (Overload): Saat pelanggan meledak dan kapasitas waktu normal memang tidak lagi mencukupi.
* Lembur Deadline: Komitmen menjaga janji kepada pelanggan agar tepat waktu.

Namun, yang harus dibasmi adalah Lembur karena Ketololan. Ini terjadi ketika karyawan harus bekerja ekstra hanya untuk memperbaiki kesalahan yang mereka buat sendiri di jam kerja normal. Jika Anda membayar uang lembur untuk tipe ini, selamat: Anda sedang mensubsidi ketidakefektifan tim Anda sendiri.

3. Melawan "Gaya Gravitasi" dan Fenomena "Gajah Duduk"

Pernah melihat karyawan yang sudah bertahun-tahun menduduki posisi yang sama dan menolak bergeser? Inilah "SDM Gajah Duduk"—mereka yang sulit didayagunakan dan enggan berkembang karena sudah terlalu menyatu dengan zona nyaman.

Mereka terkena Gaya Gravitasi Karyawan yang sangat kuat. Bagi mereka, meja, kursi, dan komputer di unitnya sudah menjadi bagian dari eksistensi diri. Pak Naw punya perumpamaan yang tajam: "Meminta kursi yang ada di ruang kerjanya pun sudah setara dengan mencabut nyawanya." Mereka menjadi raja kecil yang menghambat perubahan. Solusinya? Jangan biarkan gravitasi itu terbentuk.

* Wajib Rotasi: Lakukan rotasi rutin secara terencana.
* Maksimal 2 Tahun: Jangan biarkan karyawan mendiami posisi yang sama lebih dari dua tahun agar mereka tetap segar dan tidak memiliki keterikatan berlebih pada fasilitas kerja.

4. Klasifikasi Perilaku: Dari "Lumba-Lumba" hingga "Kapal Selam"

Jangan tertipu oleh mesin absen fingerprint. Absensi hanyalah ukuran kedisiplinan waktu, bukan jaminan output. Pak Naw mengklasifikasikan empat tipe perilaku staf yang sering muncul di kantor dengan gaya yang skannable:

* Teng Go: Datang tepat, pulang tepat. Biasanya dilakukan karyawan baru atau karyawan lama yang sudah "mentok" dan tidak bisa dikembangkan lagi.
* Kapal Selam: Absen tepat waktu, lalu menghilang tanpa kejelasan sepanjang hari (biasanya punya "obyekan" lain), dan tiba-tiba muncul lagi saat jam pulang.
* Lumba-Lumba: Terlihat paling sibuk, lompat sana-sini, tapi tidak ada output nyata. Parahnya, mereka hobi merecoki pekerjaan orang lain sementara tugas sendiri terbengkalai.
* Lembur Semu: Sengaja memperlambat kerja atau menghilang di siang hari agar bisa bekerja malam demi mengejar uang lembur tambahan.

Hentikan memuja kehadiran fisik. Gunakan target berbasis output untuk melihat siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya sedang bersandiwara.

5. Menyamakan "Level Keresahan": Kunci Perubahan Organisasi

Transformasi sering gagal karena CEO-nya sudah "kebakaran jenggot" melihat profit turun, sementara karyawannya tetap "dingin" karena merasa gaji tetap cair tepat waktu. Perubahan hanya terjadi jika level keresahan ini disamakan. Filosofi Intel sangat relevan di sini: "Jika tidak bekerja baik, perusahaan akan bangkrut selamanya."

Untuk menyamakan keresahan ini, Anda butuh tiga pilar:

1. Leaders (Ghost Leaders): Pemimpin jangan cuma mendekam di balik meja. Jadilah Ghost Leader yang muncul secara acak di 10% unit kerja setiap harinya. Kehadiran yang tidak terduga ini menciptakan kewaspadaan positif.
2. Cultures (Open Office): Bongkar sekat kubikal yang kaku. Ubah menjadi open office untuk mempercepat aliran informasi dan memicu kolaborasi lintas fungsi.
3. System (Make Everything Simple): Sederhanakan proses. Pastikan informasi mengalir tanpa hambatan. Lakukan komunikasi rutin: harian di unit, mingguan di bagian, dan bulanan di level divisi.


--------------------------------------------------------------------------------


Kesimpulan: Menjadi "Pemimpin Ketok Magic" yang Bekerja dalam Senyap

Pada akhirnya, kita membutuhkan sosok "Pemimpin Ketok Magic". Seperti bengkel Ketok Magic yang legendaris, ada satu aturan utama: pelanggan dilarang melihat proses pengerjaannya.

Seorang pemimpin tipe ini tidak butuh panggung publikasi atau sibuk pencitraan di media sosial. Mereka bekerja fokus, senyap, dan mungkin terlihat "blepotan" di belakang layar demi membereskan masalah. Namun, begitu pintu dibuka, mereka menghadirkan kejutan: perusahaan yang tadinya "penyok" oleh konflik internal kembali "mulus" dengan mahakarya pelayanan yang luar biasa.

Ingat, SDM Anda hanya akan bertahan jika mereka merasa BERKEMBANG (lewat karir), NYAMAN (dengan lingkungan), dan SEJAHTERA (secara ekonomi).

Pertanyaannya sekarang: Berapa banyak "Gajah Duduk" dan "Lumba-Lumba" yang saat ini sedang Anda beri makan di dalam tim Anda?

Comments

Popular Posts